WELCOME TO MY BLOG ::

Selamat Datang Sahabat. Semoga kita menjadi saudara sejati, ketika KLIK anda mengantar masuk space ini semoga bukan ruang hampa yang menjenuhkan. Sangat tersanjung anda berkenaan membaca sejenak apapun yang tersaji disini. Sejurus lalu, meninggalkan komentar, kritik atau pesan bijak buat penghuni blog. Ekspresi anda dalam bentuk tulisan adalah ungkapan abstrak banyak keinginan yang ingin kita gapai. So, berekspresilah dengan tulus dan semangat. Mari kita pupuk semangat dan cita-cita tinggi.
OK

Rabu, 21 Januari 2009

P E N G E M B A N G A N P E M B E N I H A N ABALONE Haliotis asinina LINNE

by : 
MUHAMMAD FAHRI
0720818017

PROGRAM PASCA SARJANA BUDIDAYA PERIKANAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2008

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
II. METODE
III. PEMBENIHAN ABALONE Haliotis asinina
3.1. Biologi Kerang Abalone
3.1.1. Klasifikasi
3.1.2. Morfologi
3.1.3. Anatomi
3.1.4. Habitat dan Tingkah Laku
3.1.5. Kebiasaan Makan
IV. PENGELOLAAN INDUK
4.1. Pengadaan Induk
4.2. Pengangkutan Induk
4.3. Pemeliharaan Induk
4.4. Seleksi Induk
V. PEMIJAHAN
5.1. Tempat / Wadah Pemijahan
5.2. Teknik Pemijahan
5.3. Pemanenan Telur
VI. PEMELIHARAAN LARVA
6.1. Penebaran Trochopore
6.2. Pengelolaan Kualitas Air
6.3. Pengelolaan Pakan
VII. PEMANENAN BENIH
7.1. Teknik Pemanenan
7.2. Pertumbuhan Abalone
VIII. HAMA DAN PENYAKIT
8.1. Hama
8.2. Penyakit
IX. PEMBAHASAN
9.1 Permasalahan Pengembangan Abalone
9.2 Strategi Pengembangan Abalone
X. KESIMPULAN DAN SARAN
10.1. Kesimpulan
10.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Morfologi Haliotis asinina
Gambar 2. Induk abalone yang baik untuk pemijahan
Gambar 3. Tempat Pemeliharaan Induk Abalone
Gambar 4. Induk Jantan dan Betina siap dipijahkan
Gambar 5. Bak Pemijahan (kiri) dan Peralatan Panen Telur (kanan)
Gambar 6. Embriogenesis Larva Abalone
Gambar 7. Bak Pemeliharaan Larva dengan Substrat Penempel
Gambar 8. Pergantian air pemeliharaan larva
Gambar 9. Cara membersihan feeder plate
Gambar 10. Teritip yang menempel pada substrat dan cangkang

Gambar 11. Gejala kerang abalone yang sakit, nampak lemas (kiri) dan warna karat (kanan)

PENGEMBANGAN PEMBENIHAN ABALONE Haliotis asinina LINNE


I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
 Abalone (Haliotis spp) atau siput laut disebut juga awabi, mutton fish, sea ear dalam bahasa`daerah disebut dengan medau atau kerang mata tujuh atau kerang telinga laut. Di dunia diperkirakan ada sekitar 100 jenis abalone, 20 spesies merupakan ekonomis penting. Di pasaran internasional jenis abalone haliotis asinina mencapai harga Rp 200 ribu/Kg sedangkan abalone haliotis supertextra lebih mahal, bisa mencapai Rp 600 ribu/Kg.

 Saat ini permintaan pasar khususnya pasar Asia seperti Cina, Singapura Jepang dan lain-lain semakin meningkat, ini menunjukkan bahwa komoditi ini layak untuk dikembangkan di masa mendatang. Selama ini pasokan pasar diperoleh dari hasil tangkapan dari alam dengan hasil yang sedikit dan ukuran yang beragam. Selain di NTB abalon ditemukan di beberapa perairan laut seperti Kepulauan Seribu, Pulau Madura, pesisir selatan pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Penduduk sekitar pantai menangkap abalone di balik batu-batu karang saat surut terrendah pada pagi atau sore hari dengan menggunakan alat berupa kait yang terbuat dari kawat. Jumlah dan ukuran beragam (tidak ada pemilahan atau pembatasan) sehingga mengurangi populasi abalon baik ukuran besar maupun ukuran kecil, bahkan untuk mendapatkan abalone yang bermutupun semakin sulit. Pasalnya, jenis kerang yang senang hidup di dasar laut dan menempel di bebatuan ini memang rentan terhadap pencemaran. Terlebih lagi, karena hanya memiliki satu cangkang sehingga gerakannya sangat lambat hewan ini jadi mudah disantap oleh predator laut lainnya.
Di beberapa negara abalone sudah dikembangakan sejak lama seperti Jepang dimana disetiap propinsi memiliki unit hatchery abalone baik milik pemerintah maupun swasta. Di Taiwan dengan asistensi JICA pembenihan Haliotis asinina sudah berhasil sejak tahun 1989 begitu juga di Philipina (SEAFDEC). Sedangkan di Indonesia Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) sejak dua tahun terakhir mulai menggalakkan budidaya abalone. Selain mengembangkan teknik budidayanya, kini bersama sejumlah pengusaha asal Jepang sedang membangun lembaga riset di Bali yang khusus menangani penelitian dan pengembangan abalone. Hasil produksi dari proyek budidaya ini sudah siap ditampung oleh Kyowa Concrete Industries, yakni perusahaan asal negara Jepang. Di Jepang abalone (jenis kerang termasuk dalam keluarga holitoidae) tergolong jenis makanan laut yang sangat eksklusif yang hanya dihidangkan di sejumlah hotel atau restoran berbintang dengan tarif paling murah Rp 1,5 juta per porsi. Itu sebabnya menu kerang ini hanya layak dikonsumsi bagi kalangan berkantong tebal.
 Menurut Reyes et al (1996) abalone mempunyai nilai gizi yang cukup tingi dengan kandungan protein 71,99%, lemak 3,20%, serat 5,60%, abu 11,11% dan kadar air 0,60% Selain itu cangkangnya dapat digunakan untuk perhiasan, pembuatan kancing baju dan berbagai bentuk kerajinan lainnya. Hal yang menarik dari budidaya abalone adalah bersifat low tropic level (larvanya memakan bentik diatom dan dewasanya makan rumput laut/makroalga) sehingga biaya produksi relatif murah. Konsekuensi logis dari pengembangan budidaya abalon adalah tersedianya benih dalam jumlah dan kontinuitas yang memadai dalam upaya untuk memassifkan budidaya abalone ini.
1.2 Tujuan 
 Tujuan dari makalah ini adalah untuk memberikan informasi mengenai pembenihan abalone jenis Haliotis asinina serta merupakan tugas terstruktur dari mata kuliah Pengembangan Budidaya Perairan
II. METODE 
Dalam penyusunan makalah ini menggunakan metode deskriptif dengan merangkum sejumlah data dan informasi yang terkait dengan pengembangan pembenihan abalone baik berupa jurnal ilmiah, buku, makalah, prosiding seminar dan sejenisnya.
III. PEMBENIHAN ABALONE Haliotis asinina
3.1. Biologi Kerang Abalone
3.1.1. Klasifikasi 
 Abalone termasuk ke dalam grup primitif dari moluska, dengan klasifikasi sebagai berikut : 
 Phyllum : Mollusca
 Class : Gastropoda
 Sub Class : Archaeogastropoda
 Super family : Pleurotomarioidea
 Family : Halitidae
 Genus : Haliotis
 Spesies : Haliotis asinina (Barnes, 1974 dalam Buen-Ursua, 2007)
3.1.2. Morfologi
 Menurut Fallu (1991) abalone memiliki cangkang tunggal atau monovalve dan menutupi hampir seluruh tubuhnya. Pada umumnya berbentuk oval dengan sumbu memanjang dari depan (anterior) ke belakang (posterior) bahkan beberapa spesies berbentuk lebih lonjong. Cangkang abalon berbentuk spiral namun tidak membentuk kerucut akan tetapi berbentuk gepeng.
 Kepala terdapat di bagian anterior sedangkan puncak dari lingkaran (spiral) adalah bagian belakang (posterior) pada sisi kanan. Bagian luar cangkang agak kasar sedangkan bagian dalam halus dan tampak lapisan nacre bahkan beberapa spesies berwarna-warni. Pada bagian sisi kiri cangkang terdapat lubang-lubang kecil berjajar. Lubang dibagian depan lebih besar dan semakin ke belakang mengecil dan tertutup. Biasanya lubang yang terbuka jumlahnya lima, lubang ini berfungsi sebagai jalan masuknya air yang mengandung oksigen dan keluarnya karbondioksida bahkan keluarnya sel-sel telur dan sperma. Pertumbuhan cangkang terjadi dengan adanya penambahan bagian depan pada sisi kanan. Garis-garis pada cangkang menunjukkan pertumbuhan (Gambar 1).
 Kaki pada abalone bersifat kaki semu, selain untuk berjalan juga untuk menempel pada substrat/dasar perairan. Kaki ini sebagian besar tertutup cangkang dan terlihat jelas bila abalon dibalik. Sebagian dari kaki yang tidak tertutup cangkang nampak seperti sepasang bibir. Bibir ini ditutup oleh kulit yang keras/kuat berfungsi sebagai perisai untuk melawan musuhnya. Warna bibir bervariasi pada setiap spesies dan akhirnya digunakan dalam pengklasifikasian spesies seperti “brownlip abalone” dan “greenlip abalone”.
 
Gambar 1. Morfologi Abalone Haliotis asinina
 Pada sekeliling tepi kaki terlihat sederetan tentakel untuk mendeteksi makanan atau predator yang mendekat. Bagian dari abalone yang dimakan adalah otot daging yang menempel pada cangkang dan kaki, sedangkan isi perut dan gonad pada kulit terluar dari kaki dibuang. 
 Kepala terdapat dibagian depan dari kaki, dilengkapi dengan sepasang tentakel panjang pada bibir. Tentakel ini ukurannya lebih besar seperti halnya tangkai mata pada siput darat. Mulut terdapat di bagian dasar dari kepala, tidak memiliki gigi tapi terdapat lidah yang ditutupi oleh gigi geligi dan disebut radula yang digunakan untuk memarut (menghancurkan) makanan yang menempel di substrat.
3.1.3. Anatomi
 Kelenjar reproduksi atau gonad berbentuk kerucut yang terletak antara cangkang dan kaki. Posisi gonad sejajar dengan cangkang seperti halnya lubang pada cangkang dan memanjang sampai ke bagian puncak gelungan cangkang (umbo). Warna gonad betina yang telah matang berwarna biru kehijauan atau coklat, sedangkan yang jantan berwarna krem atau putih tulang. Biasanya warna gonad yang belum matang berwarna abu-abu sehingga sulit untuk membedakan antara jantan dan betina.
 Abalone mempunyai sepasang insang dalam sebuah ruang ronga mantel di bawah deretan lubang pada cangkang. Air laut melalui lubang pada cangkang masuk ke dalam rongga mantel bagian depan dan keluar melalui insang. Pada saat air melalui insang oksigen diserap dan sisa gas dibuang. 
 Pencernaan abalone tersembunyi diantara kaki dan cangkang. Sistem pencernaan berturut turut yaitu mulut, gigi, odontophone, radula strap, radula sac , oesophagus, lambung, usus, rektum, dan anus.
3.1.4. Habitat dan Tingkah Laku
 Kerang abalone biasa ditemukan pada daerah yang berkarang yang digunakan sebagai tempat menempel. Kerang abalone bergerak dan berpindah tempat dengan menggunakan satu organ yaitu kaki. Gerakan kaki yang sangat lamban memudahkan predator untuk memangsanya.
 Abalone adalah jenis binatang nocturnal, pada siang hari atau suasana terang kerang abalone cenderung bersembunyi di karang-karang dan pada malam atau gelap lebih aktif melakukan gerakan berpindah tempat. Di tinjau dari segi perairan, kehidupan kerang abalone sangat dipengaruhi kualitas air. Secara umum spesies kerang abalone mempunyai toleransi terhadap suhu air yang berbeda-beda seperti Haliotis kamtschatkana dapat hidup dalam air yang lebih dingin sedangkan Haliotis asinina dapat hidup dalam air bersuhu tinggi (300 C). Parameter kualitas air yang lain adalah pH antara 7 – 8, salinitas 31 – 33 ppt, H2S dan NH3 kurang dari 1 ppm serta oksigen terlarut lebih dari 3 ppm (Buen-Ursua, 2007).
 Penyebaran kerang abalone sangat terbatas karena hidupnya di lautan terbuka serta lebih senang di perairan dengan salinitas konstan sehingga tidak ditemukan di daerah estuaria yaitu pertemuan air tawar dan air laut. 
3.1.5. Kebiasaan Makan
 Tingkah laku makan dari abalone tergantung dari tingkat pertumbuhan. Awal larva menetas atau trochopore masih tergantung pada kuning telur sebagai sumber nutrisi. Ketika mengalami metamorfosa dan menjadi veliger, larva abalone mulai melekatkan diri pada substrat atau batu dan makan mikroalga terutama epiphite diatom seperti navicula, nitzchia, ampora dan lain-lain.
 Saat abalone mencapai juvenil awal (panjang shell (cangkang) 4 – 5 mm) sampai abalone dewasa menyukai pakan berupa makroalga seperti rumput laut (seaweed). Jenis rumput laut yang dapat dimanfaatkan kerang abalone sebagai makanan yaitu :
a. Makro alga merah : Corallina, Lithothamnium, Gracillaria, Jeanerettia dan Porphyra.
b. Makro alga coklat : Eckolnia, Laminaria, Macrocystis, Nereocystis, Undaria dan Sargassum.
c. Makro alga hijau : Ulva  
IV. PENGELOLAAN INDUK
4.1. Pengadaan Induk
 Induk atau calon induk yang digunakan adalah abalone hasil tangkapan di habitat aslinya atau induk hasil breeding (F1). Keunggulan induk yang berasal dari alam biasanya bisa langsung mendapatkan induk dengan tingkat kematangan gonad yang penuh, peluang memijah lebih tinggi bila langsung dipijahkan. Sedangkan kelemahannya adalah sering terjadi kematian akibat penanganan saat penangkapan (luka atau stress). Para penangkap menggunakan alat berupa kait besi yang diberi tangkai sehingga sering ditemukan abalone yang luka.
 Pada induk hasil breeding biasanya tingkat kematangan gonad secara bertahap sehingga memerlukan waktu agak lama untuk mencapai kematangan penuh. Hal ini akan mempengaruhi pemijahan karena harus menunggu saat gonad penuh. 
Induk abalone baik dari alam maupun breeding yang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Gambar 2):
- Tingkat kematangan gonad cukup
- Otot kaki atau daging terlihat segar dengan warna gelap dan tidak lembek dan lemas
- Melekat kuat pada substrat
- Dapat membalikkan tubuhnya segera bila diletakkan dalam air dengan posisi terbalik
- Sehat, organ tubuh tidak luka dan utuh
- Ukuran panjang cangkang = 5 cm
- Merayap/berjalan jika dilepaskan dari genggamam

Gambar 2. Induk abalone yang baik untuk pemijahan

4.2. Pengangkutan induk 
 Pengangkutan induk dari hasil tangkapan di pengepul ke hatchery dapat dilakukan secara terbuka ataupun tertutup. Pengangkutan terbuka dilakukan jika jarak antar tempat pengepul < 30 menit dari hatchery sedangkan untuk jarak tempuh lebih dari 30 menit menggunakan pengangkutan tertutup. Hal ini untuk menghindari stress pada induk abalone yang dapat menyebabkan kematian. Induk yang baru tiba di hatchery ditempatkan dalam bak terpisah 2-3 hari agar dapat diamati sebelum ditempatkan pada bak induk atau keranjang induk. 
4.3. Pemeliharaan induk
 Induk jantan dan betina dipelihara secara terpisah untuk menghindari spontanious spawning. Induk dimasukkan dalam keranjang plastik berukuran 60 x 50 x 40 cm dengan kepadatan 50 – 80 ekor, diberi potongan pipa paralon PVC sebagai tempat berlindung atau shelter dan ditutup dengan waring (Gambar 3). Hal ini dilakukan untuk menhindari abalone agar tidak keluar dari bak pemeliharaan. Karena kotoran menumpuk di dasar bak, untuk menjaga kesehatan induk di dasar bak diberi kerangaka yang terbuat dari pipa PVC ½ “ – ¾” sebagai alas keranjang agar tidak menyentuh dasar bak dilakukan secara sirkulasi selama 24 jam dengan kuantitas 200-300% perhari. Tinggi air di dalam bak sekitar 60-70 cm. Pemberian pakan berupa rumput laut segar jenis Gracillaria spp atau Ulva spp sebanyak 30-40% dari berat biomass abalone. Pemberian pakan dapat dilakukan 2 hari sekali tetapi bila berlebihan dapat menurunkan kualitas air.

Gambar 3. Tempat Pemeliharaan Induk Abalone
4.4. Seleksi induk
 Seleksi bertujuan mendapatkan induk matang gonad yang siap untuk dipijahkan. Waktu seleksi dapat dilakukan menjelang waktu pemijahan. Secara morfologi sulit membedakan individu jantan atau betina. Induk yang siap dipijahkan memiliki kandungan gonad >60% dimana gonad dengan kondisi penuh adalah 100%. 
Untuk melihat gonad abalone diperlukan spatula, selanjutnya otot pada sisi yang belawanan dari lubang di bagian cangkang dikuak menggunakan spatula. Induk betina ditandai dengan warna hijau dan jantan warna oranye muda atau putih tulang (Gambar 4)

Gambar 4. Induk Jantan dan Betina siap dipijahkan

V. PEMIJAHAN
5.1. Tempat / Wadah Pemijahan
Wadah/bak pemijahan dapat berupa bak fiber glass ukuran 1,5 X 0,5 X 0,4 m atau bak plastik volume 30 - 60 liter dilengkapi dengan saluran keluar (outlet). Bak dilengkapi air masuk, aerasi dan heater (bila diperlukan). Pada bagian atas terdapat saluran pelimpasan yang diarahkan ke bak penampungan telur atau trochophore. Bak penampungan telur (egg collector berupa bak plastik dilengkapi dengan plankton net mesh size 60 m) dan saluran pelimpasan (Gambar 5). 

Gambar 5. Bak Pemijahan (kiri) dan Peralatan Panen Telur (kanan)


5.2. Teknik Pemijahan
 Di daerah tropic abalone dapat memijah sepanjang tahun. Waktu pemijahan berlangsung 2 kali setiap bulannya, yaitu waktu bulan gelap dan bulan terang. Frekuensi pemijahan di bulan gelap atau bulan terang berlangsung antara 2-4 hari (pada individu yang berbeda). Induk hasil seleksi ditempatkan di bak pemijahan dengan perbandingan jantan dan betina 1:3
 Proses pemijahan dapat dilakukan secara alami (tanpa rangsangan) atau dengan menaikkan suhu air media 2-30C dari suhu normal dengan memasang heater 40-75 watt (1-2 buah).
Pemijahan berlangsung pada malam hari antara pukul 23.00 sampai 06.00 pagi. Kadang-kadang abalone merayap ke permukaan bak, sehingga telur atau sperma disemprotkan di luar badan air. Untuk mengghindari hal tersebut bak ditutup dengan waring hitam yang diberi frame. Telur abalone berwarna hijau, telur yang terbuahi mengendap di dasar bak dengan diameter ± 100 m. Embriogenesis berlangsung sekitar 6 jam dari mulai pembuahan (Gambar 6). Selanjutnya telur menetas menjadi trochopora yang melayang atau plakntonis.
 
Gambar 6. Embriogenesis Larva Abalone
5.3. Pemanenan Telur
 Penanganan setelah pemijahan dapat dilakukan dengan memanen telur atau memanen trochopohora. Telur yang dibuahi disiphon dengan menggunakan selang (0,5 – 0,75 inchi) dan ditampung dalam toples yang dilengkapi saringan mesh size 60 m .
 Sedangkan memanen trochophora dilakukan pagi hari setelah telur menetas menjadi trochohpora. Trochophora yang terkumpul di plankton net diambil dengan menggunakan gayung dan disaring dengan saringan 60 micron Selanjutnya dibilas dan dikumpulkan dalam toples. Untuk memisahkan kotoran dengan trochophora, kembali disaring dengan saringan 200 micron, sehingga didapat trochophora dengan air yang bersih dari kotoran. Trochophora yang sudah terkumpul selanjutnya dapat dihitung secara sampling dan siap ditebar. Trocophora dapat terlihat tanpa bantuan mikroscope, berupa bintik berwarna hijau muda dan bergerak naik turun.
VI. PEMELIHARAAN LARVA
6.1. Penebaran Trochopore
 Trochopore ditebarkan pada bak kultur masal Nitzchia spp sekaligus bak pemeliharaan larva (Gambar 7). Toples yang berisi trochopore diaklimatisasi di bak selama 1 jam kemudian ditebar secara merata dan perlahan. Padat tebar untuk bak volume 1,5 ton adalah 300.000–500.000 ekor trochopore. Setelah trochopore ditebar aliran air dimatikan dan diberi aerasi sedang.
 Trochopore akan terus berkembang sebagai larva yang bersifat planktonis memanfaatkan cadangan makanan (yolk sack) hingga habis pada hari ke 4-5 (D4-D5). Setelah yolk sac habis larva mencari substrat untuk menempel dan mulai makan bentik diatom yang terdapat pada substrat. Pada minggu pertama ini adalah masa kritis bagi larva abalone, karena larva mulai makan bentik diatom. Larva akan hidup bila menempel pada substrat yang ditumbuhi bentik diatom yang cocok sebaliknya akan mati bila makanannya tidak cocok.
 Pada D10 larva sudah menempel pada substrat dengan stabil dan dapat dialirkan air secara perlahan (sirkulasi). Spat atau benih dapat dilihat mulai umur D18 dan semakin lama akan jelas terlihat menempel pada dinding substrat atau bak sebagai titik merah kecoklatan 
   
Gambar 7. Bak Pemeliharaan Larva dengan Substrat Penempel
6.2. Pengelolaan Kualitas Air
 Kualitas air selama pemeliharaan larva akan terus menurun dengan lamanya proses pemeliharaan berlangsung. Untuk menjaga kualitas air diperlukan pergantian air baru masuk ke dalam bak pemeliharaan larva (Gambar 8). Pada umur < 60 hari dapat dilakukan penyiponan dengan selang yang berdiameter kecil dan ujung selang bagian luar dipasang saringan untuk mengantisipasi spat ikut tersedot keluar.

Gambar 8. Pergantian air pemeliharaan larva
Untuk menghilangkan organisma kompetitor dan predator seperti cacing dan siput yang menempel di substrat dapat dilakukan secara fisik dengan menyemprot feeder plate. Caranya adalah dengan mengangkat feeder plate secara perlahan dan ditempatkan di akuarium berisi air laut agar terrendam setengahnya,. Kemudian disemprot air/dialirkan air bersih secara perlahan pada permukaan substrat. Selanjutanya feeder plate dimaukkan lagi ke dalam bak pemelihraan (Gambar 9). Kegiatan tersebut dilakukan secara periodik satu bulan sekali.
 
Gambar 9. Cara membersihan feeder plate
6.3. Pengelolaan Pakan
 Sebelum fase penempelan pada substrat larva memanfaatkan yolk sac, setelah yolk sac habis larva memakan bentik diatom yang menempel pada substrat dan dinding bak pada fase ini larva abalone disebut creeping larva. Umur 60 hari mulai dikenalkan dengan makroalga seperti Gracillaria spp dan Ulva spp yang ditempatkan di atas feeder plate dengan jumlah secukupnya. Biasanya pakan akan habis hingga kondisi pakan menjadi keras, sebaiknya pakan diganti yang lebih segar dan lunak. 
 Pakan sebelum diberikan dicuci di air yang mengalir untuk membersihkan kotoran dan predator yang menempel seperti kepiting, bintang laut siput, cacing dan lain-lain. Gracillaria spp dan Ulva spp diberikan hingga abalone dewasa dengan jumlah semakin bertambah sesuai biomassa abalone tersebut.

VII. PEMANENAN BENIH
7.1. Teknik Pemanenan
Panen dimaksudkan untuk memindahkan spat dari bak pemeliharaan larva ke bak lainnya. Pemanenan dilakukan setelah benih dapat mengkonsumsi makroalga. Panen dilakukan mulai umur 2 bulan dan dilakukan dengan hati-hati karena spat dapat menempel dengan kuat pada substrat/bak serta kulit dan cangkangnya masih tipis sehingga rawan pecah sehingga menimbulkan luka. Sedangkan panen pada umur 3-4 bulan lebih aman karena ukuran benih lebih besar dan cangkang lebih kuat.
Teknik panen dapat dilakukan dengan mengambil benih menempel pada rumput laut secara bertahap dan langsung ditempatkan di bak pemeliharaan benih. Sedangkan benih yang menempel pada fedeer plate dilakukan dengan melepaskan rangkaian feeder plate dengan menggunakan sponge halus. Benih yang lebih besar pengambilannya dengan menggunakan spatula. Benih tersebut dapat langsung ditempatkan pada bak pemeliharaan

7.2. Pertumbuhan Abalone
 Pertumbuhan abalone dapat dikatakan sangat lamban bila dibandingkan dengan komoditas perikanan lainnya, hal ini menyebabakan sangat sedikit yang tertarik untuk melakukan pembenihan atau pembudidayaannya. Hasil pengukuran pertumbuhan cangkang abalone yang dipelihara pada bak di indoor hatchery adalah :
Tabel 1. Hasil pengukuran panjang cangkang abalone berdasarkan umurnya
Umur (bulan)   Panjang Cangkang (cm)
4                                 1,1
5                                 1,6
6                                 1,75
8                                 2,79
10                              3,33
12                              3,81
13                              4,00
Sumber : Loka Budidaya Laut Sekotong Lombok, 2007
VIII. HAMA DAN PENYAKIT
8.1. Hama
 Serangan kompetitor maupun predator di bak pemeliharaan larva atau induk seperti siput, kepiting, bintang laut, ubur-ubur dan cacing dapat merugikan terutama bila kondisi larva masih sangat kecil. Gerakan abalone yang lambat sangat memudahkan predator untuk memangsanya.
Teritip harus selalu dibersihkan sebagai tindakan pencegahan akan terjadinya luka, karena cangkangnya yang runcing dan tajam (Gambar 10). Teritip akan menjadi masalah jika jumlahnya banyak pada substrat selain sebagai penyaing oksigen juga akan menyulitkan abalaone bergerak bahkan dapat tumbuh pada cangkang abalone. Untuk gangguan yang disebabkan oleh hama tersebut penanganan dilakukan secara manual dengan membersihkan pakan sebelum diberikan pada larva atau induk .
 
Gambar 10. Teritip yang menempel pada substrat dan cangkang
8.2. Penyakit
 Penyakit pada kerang abalone akan timbul saat kondisi kerang abalone menurun akibat adanya perubahan kualitas air yang menimbulkan stress dan penanganan yang kurang hati-hati sehingga menimbulkan luka. Pada keadaan ini abalone sangat riskan terhadap serangan penyakit.
 Salah satu gejala yang ditimbulkan adalah timbulnya warna merah seperti karat pada bagian selaput gonad pada bagian bawah cangkang (Gambar 11). Abalone yang mengalami gejala ini dalam waktu 5-6 hari lapisan selaput akan sobek, nampak lemas dan jika dipegang sangat lembek yang akhirnya mengalami kematian. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah tindakan karantina sebelum selaput gonad mengalami sobek dan dilakukan pengolesan acriflavin (500 ppm) pada selaput tersebut secara kontinyu selama 3 hari. Tindakan ini juga dilakukan pada kerang abalone yang mengalami luka.
 Tindakan pencegahan terhadap timbulnya penyakit dapat juga dilakukan sebagai berikut :
- Menghindari pemberian pakan yang berlebih
- Pakan yang diberikan dalam keadaan segar dan bersih
- Menghindari luka akibat penanganan, baik saat seleksi atau pemindahan larva/benih sehingga abalone tidak mengalami stress
- Memindahkan abalone bila pada bak/substrat telah banyak dipenuhi teritip
- Pakan tersedia dalam jumlah yang cukup.
  
Gambar 11. Gejala kerang abalone yang sakit, nampak lemas (kiri) dan warna karat (kanan)

VIII. PEMBAHASAN
8.1. Permasalahan Pengembangan Abalone
Perkembangan usaha pembenihan dan budidaya abalone di Indonesia belum mengalami peningkatan yang pesat meskipun program stimulasi kerap dilakukan oleh pemerintah dalam rangka memacu pertumbuhan usaha budidaya abalone ini. Padahal, dalam penerapan teknologi yang dibutuhkan tidak terlalu sulit, lahan tersedia cukup luas, pakan dari tumbuhan makroalga laut seperti rumput laut, kualitas air masih baik untuk daerah-daerah yang jauh dari sentra industri dan pemukiman masyarakat, permodalan juga tidak terlalu mahal untuk memulai usaha pembenihan abalone tersebut. Permasalahannya adalah minat masyarakat yang masih rendah mengingat kendala-kendala yang ada dilapangan.
Jika kita mencermati dalam upaya peningkatan budidaya abalone ada beberapa permasalahan mendasar yang dapat kita temui, diantaranya adalah :
1. Ketersediaan benih yang masih terbatas baik kualitas dan kuantitas, dibeberapa daerah masih mengandalkan benih alam.
2. Siklus produksi yang relatif lama untuk setiap masa panen (1-1,5 tahun)
3. Rentan dengan pencemaran perairan
Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan ini diperlukan berbagai cara dan strategi untuk dapat menjawab kebutuhan akan permintaan pasar terhadap komoditas abalone baik pasar domestik maupun pasar eksport.
8.2. Strategi Pengembangan Abalone
Dengan melihat dan mencermati permasalahan mendasar yang ada dalam usaha pembenihan abalone tersebut, maka diperlukan beberapa langkah yang dimaksudkan untuk mengatasi atau sebagai solusi efektif terhadap keadaan yang sedang berlangsung tersebut. Permasalahan kualitas dan kuantitas benih adalah masalah klasik yang selalu saja dihadapi dalam bidang perikanan secara umum, tak terkecuali pembenihan abalone. Untuk mengatasi ketersediaan benih semestinya dibuatkan program pemuliaan calon induk yang unggul dari alam sebagai stok yang menjadi rujukan dalam memproduksi benih abalone skala massal. Dengan cara ini, kualitas benih yang dihasilkan oleh induk-induk pemuliaan menjadi tercatat dan dapat diperbaiki kembali dengan melakukan perkawinan silang (breeding) untuk mendapat kualitas benih abalone yang unggul. Permasalahan kuantitas (jumlah) bisa diatasi selain mendorong keterlibatan para pihak swasta (pengusaha) juga dengan mengintesifkan program pembenihan abalone pada lembaga/Instansi pemerintah yang menjadi unit pelaksana teknis untuk melakukan program pembenihan abalone sebagai contoh bagi masyarakat dan mengajak masyarakat sebagai bagian dari program tersebut. Dengan harapan, masyarakat nanti secara mandiri dapat menjadi pelaksana sebagai penggiat usaha budidaya abalone secara umumnya.
Siklus produksi dalam usaha pembenihan maupun budidaya abalone sangat lambat dikarenakan pertumbuhan abalone dapat dikatakan sangat lamban bila dibandingkan dengan komoditas perikanan lainnya, hal ini menyebabkan sangat sedikit yang tertarik untuk melakukan usaha pembenihan atau budidaya abalone. Hal ini seharusnya dapat diatasi dengan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan spesies yang relatif cepat tumbuh dan berkembang. Adapun cara yang bisa dilakukan antara lain dengan perkawinan silang untuk mendapatkan benih unggul baik yang cepat tumbuh, tahan penyakit, tahan terhadap perubahan kualitas air yang buruk dan lainnya. Teknologi genetika juga dapat diterapkan untuk membuat atau mendapatkan spesies abalone yang diinginkan dengan metode seperti transgenik, atau sejenisnya sehingga permasalahan pertumbuhan yang lambat tersebut bisa ditekan untuk memperpendek siklus produksi dalam pembenihan maupun budidaya abalone.
Untuk permasalahan pencemaran kualitas air dapat diantisipasi dengan pemilihan lokasi yang telah diuji dengan studi kelayakan juga dengan tetap mempertimbangkan Rencana Umum Tata Ruang/Wilayah masing-masing pemerintahan disetiap tingkatannya. Untuk lokasi yang diperkirakan menjadi wilayah pemukiman sebaiknya dihindari agar menjamin kelangsungan usaha pembenihan dan budidaya secara langgeng.
IX. KESIMPULAN DAN SARAN
9.1 Kesimpulan
 Dari pemaparan diatas tentang pengembangan pembenihan abalone dapat disimpulkan beberapa hal, sebagai berikut :
- Abalone mempunyai prospek sangat bagus untuk dikembangkan karena komoditi ini mempunyai harga dan permintaan yang cukup tinggi di pasar eksport serta relatif lebih mudah dan murah dalam biaya produksi.
- Pembenihan abalon merupakan rangkaian kegiatan mulai dari pengadaan induk, seleksi, pemijahan, pemeliharaan larva hingga benih siap di budidayakan di karamba jaring apung atau kurungan tancap.
- Abalone mempunyai pertumbuhan yang lambat sehingga diperlukan waktu yang lama (1-1,5 tahun) untuk satu siklus produksi. Diperlukan strategi inovasi untuk membuat spesies abalone yang tumbuh relatif cepat dari yang ada. Perkawinan silang atau teknologi genetika mungkin dapat menjawab hal tersebut.
9.2 Saran
- Dalam rangka mengintensifkan budidaya abalone diperlukan ketersediaan benih yang cukup baik kualitas maupun kuantitasnya, hal ini memerlukan inovasi teknologi seperti mempercepat kematangan gonad, mempercepat pertumbuhan, membuat jenis unggul sehingga dapat menguntungkan secara ekonomis.
- Usaha budidaya atau pembenihan abalone sampai saat ini belum banyak dikenal masyarakat sehingga perlu diadakan penyebaran informasi mengenai teknik pembenihan atau budidaya abalone.
- Perlu dikembangkan usaha pembenihan yang intensif untuk dapat mendukung usaha budidaya terutama dalam penyediaan benih secara kontinyu dan dalam jumlah yang cukup.

DAFTAR PUSTAKA

Buen-Ursua. S. M. 2007. Abalone Biology. Lecture Notes and Practical Guides. Aquculture Depatemen SEAFDEC. Tingbauan. Iloilo. Phillipines. 128 p.
Departemen of Fish and Game. Marine Region. 2001. California Abalone Information. California.
Departemen of Fisheries Aquaculture.2001. Farming Abalone. Australia.
Fallu. R. 1991 . Abalone Farming. Fishing News Book. England. 195 p.
Jarayabhand, P and Paphavasit, N. 1996. A Review of The Culture of Tropical Abalone with Special Reference to Thailand. Aquaculture 140 (159-168).
Reyes, O. S and Fermin, A. C. 1996. Teresterial Leaf Meals or Freshwater Aquatic Fern as Potential Feed Ingredients for Farmed Abalone, Haliotis asinina (Linnaeus, 1758). Phillipine.
Singhagriawan, T and Doi, M. Seed Production and Culture of A Tropical Abalone, Haliotis asinina Linne. The Research Projeck of Fisheries Resource Development in The Kingdom of Thailand. JICA.
Ungson, J. R. 1996. Feding of Abalone Juvenil with Two species of Sargasum (S. Cristaefolium and S. Polycystum). College of Fisheries. Mariano Marcos State Unversity. Ilocos Norte. Phillipines.

SELAMAT MEMBACA

1 komentar:

dwi lestari widya ningsih mengatakan...

Makasih sngat mmbantu.. tapi gambarnya kok tdk muncul yaa.. bisa minta d shared lg gak gmbarnya? khususnya gambar induk abalon yg matang gonad.. thnks b4 :-)

Poskan Komentar

Komentar Anda :

NASA Image of the Day

PROFIL PENGHUNI

Foto saya

elfahrybimantara*  Aktifitas mengajar disiplin bidang kelautan dan perikanan. Konsern dengan dunia kelautan dan perikanan. Senang dengan wisata bahari. Mengabdi di Pemkab Bima NTB. Pendidikan Magister Perikanan di Universitas Brawijaya Malang (strata 2) pada bidang bioteknology perikanan. Mari bertukar informasi. Salam Sahabat Blogger.
Ada kesalahan di dalam gadget ini

SAHABAT MAYA :

Blog Archive Here :

SEARCH LINK :

Memuat...

Label List

VISIT TOROWAMBA BEAUTY BEACH

VISIT TOROWAMBA BEAUTY BEACH
torowamba as one of tourism asset in sape bima

NEW MOTIVATION :

SUNGGUH SANGAT MEMALUKAN JIKA KAPAL BESAR KITA BERBALIK HALUAN KEBELAKANG HANYA UNTUK MENGURUS SAMPAN KECIL MASALAH. AYO !!! MAJU TERUS BRO !
Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates