WELCOME TO MY BLOG ::

Selamat Datang Sahabat. Semoga kita menjadi saudara sejati, ketika KLIK anda mengantar masuk space ini semoga bukan ruang hampa yang menjenuhkan. Sangat tersanjung anda berkenaan membaca sejenak apapun yang tersaji disini. Sejurus lalu, meninggalkan komentar, kritik atau pesan bijak buat penghuni blog. Ekspresi anda dalam bentuk tulisan adalah ungkapan abstrak banyak keinginan yang ingin kita gapai. So, berekspresilah dengan tulus dan semangat. Mari kita pupuk semangat dan cita-cita tinggi.
OK

Kamis, 13 Agustus 2009

SENYAWA ANTIOKSIDAN



By Fahri Marewo 16

Antioksidan yang berasal dari tanaman telah lama dikenal potensinya dan telah lama diketahui untuk menstabilkan senyawa radikal yang dapat diukur aktivitas antioksidan tersebut (Kim et al. 2002). Berbeda kondisinya dengan hewan, tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi sebagai mahluk hidup yang tidak bergerak, mampumenghindar dari serangan predator maupun patogen dan juga efek tekanan kuat dari kondisi lingkungan. Tanaman menghasilkan sejumlah senyawa kimia kompleks yang biasanya merupakan bagian dari sel yang disebut “metabolit sekunder” yang kandungannya bukan bahan dasar biokimia untuk hidup, tetapi sebagai bagian yang berinteraksi dengan lingkungan. Manusia memilih makanan yang dihasilkan tanaman dan bahan kimia pertahanan tanaman tersebut bisa dimanfaatkan untuk diet dan kesehatan (Houghton dan Raman 1998, Williamson et al. 1999). Fito-kimia (bahan kimia dari tanaman) mempunyai efek biologi yang efektif menghambat pertumbuhan kanker, sebagai antioksidan, menghambat pertumbuhan mikroba,
menurunkan kolesterol darah, dan menurunkan glukosa darah (Amelia 2006).

Flavonoid merupakan suatu metabolit sekunder pada tanaman yang terdapat
pada semua bagian tanaman tersebut dan struktur kimianya secara umum adalah
kerangka C6C3C6. Penamaan sub-grup dan klasifikasi berdasar pada subsitusi pada
bagaian cincin C dan posisi pada cincin B. Sebagian besar subgrup adalah flavonol,
flavon, isoflavon, katehin, proantosianidin, dan antosianin (Larbier dan Leclerco
1992, Rajalkshmi dan Narasimhan 1996). Potensi flavonoid sebagai antioksidan
dan kemampuannya mengurangi aktivitas radikal hidroksi, anion superoksida, dan
radikal peroksida lemak menjadikan flavonoid bereperan penting. Kerusakan sangat
erat kaitannya dengan proses dan epidemiologi penyakit. Uji klinik dan laboratorium
pada flavonoid dan antioksidan yang lain menjadikan penggunaan senyawa ini
penting pada pencegahan dan pengobatan sejumlah kasus penyakit. Flavonoid telah
diketahui sebagai antibakteri, antiviral, antiinflamasi, antialergi, antimutagenik,
antitrombotik, dan aktivitas vasodilatasi (Larbier dan Leclerco 1992, Miller 1996).

Gambar 4 Senyawa flavonoid (Miller 2004)

Sejumlah senyawa fenolat berperan sebagai bahan baku pangan yang berasal dari tanaman, di antaranya asam fenolat, flavonoid tanin, dan lignin. Perbedaan kultivar beberapa tanaman menunjukkan variasi yang luas baik pada kandungan fenolat maupun kapasitas antioksidan secara in vitro (Larbier dan Leclerco 1992, Imeh dan Khokhar 2002).

Fenolat penting diketahui sebagai substansi yang terbaik yang berperan
sebagai antioksidan sebagai kelompok donor elektron dari fenol, meningkatkan
aktivitas antioksidan melalui efek induksi. Namun aktivitas kimia sejumlah
antioksidan bergantung pada sejumlah faktor, yaitu stabilitas dan reaktivitas.
Antioksidan primer membentuk ikatan dengan radikal setelah pemindahan hidrogen
lebih penting daripada faktor lainnya (Jadav et al. 1996). Senyawa fenol mencakup
sejumlah senyawa yang umumnya mempunyai sebuah cincin aromatik dengan satu
atau lebih gugus hidroksil. Senyawa fenol cenderung untuk larut dalam air karena
paling sering terdapat bergabung dengan gula glukosida dan biasanya terdapat
dalam rongga sel. Di antara senyawa fenol alami yang telah diketahui, lebih dari
seribu struktur, flavonoid merupakan golongan yang terbesar (Suradikusumah 1989).

Gambar 5 Senyawa fenol (Cann 1997)

Penelitian terakhir telah menunjukkan adanya kemampuan ekstrak apel
menghambat proliferasi sel tumor secara in vitro karena diduga mengandung
senyawa fenolat atau flavonoid sebagai antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan
hambatan secara tidak langsung, yaitu pada H2O2 setelah berinteraksi dengan
senyawa fenolat pada kultur sel, flavonoid berguna untuk perbaikan kondisi
kesehatan. Senyawa polifenolat yang diisolasi dari teh hijau 6 sendok teh per-hari,
mampu menghambat perkembangan dan mestastasis kanker prostat pada manusia (Murphy 2003, Adhami et al. 2003).

Antioksidan adalah senyawa kimia yang memilki kemampuan untuk memberikan hidrogen radikal. Sebagai akibatnya, senyawa tersebut mampu mengubah sifat radikal menjadi nonradikal dan terjadi perubahan oksidasi radikal oleh antioksidan. Struktur molekul antioksidan bukan hanya memiliki kemampuan melepas atom hidrogen tetapi juga mengubah radikal menjadi reaktivitas rendah sehingga tidak terjadi reaksi dengan lemak. Antioksidan terdiri atas antioksidan endogen yang dihasilkan oleh tubuh sendiri dan antioksidan eksogen yang berasal dari makanan (Jadav et al. 1996, Manampiring et al. 2000).

Antioksidan menjadi bentuk aktif pada oksigen reaktif termasuk pada step
inisiasi oksidasi, atau dapat memecah rantai reaksi oksidatif dengan cara bereaksi
dengan radikal peroksida membentuk ikatan antioksidan-radikal yang stabil
sehingga tidak terjadi reaksi selanjutnya atau bentuk nonradikal (Howell dan Saeed
1999). Pertahanan antioksidan pada sel mampu mencegah terjadinya peroksidasi
lipida dan beberapa molekul biologi yang mengalami kerusakan. Dalam hal ini ada
tiga level pertahanan sebagai dasar pada sistem eliminasi kerusakan dengan cara
menghambat inisiasi atau propagasi dan perbaikan kembali. Level pertahanan
antioksidan pada enzim termasuk lipolitik (fosfolipase), proteolitik (peptidase atau
protease), dan enzim yang lain, yaitu DNA repair (ligase, nuklease, polimerase), dan
sejumlah transferase (Noguchi dan Niki 1996). Hambatan terhadap enzim
bergantung pada reaktivitas senyawa fenol terhadap sisi rantai asam amino enzim
(Rohn et al. 2002).

Diet dan antioksidan eksogen mencegah kerusakan seluler melalui reaksi
yang dilakukan oleh radikal bebas. Ayam yang diberi pakan diet semisintetik rendah
antioksidan menunjukkan penurunan yang nyata stabilitas eritrosit terhadap H2O2
atau 2,2’-azobis (2-amidinopropan) dihidrokhlorid (AAPH), tetapi peningkatan pada
aktivitas katalase pada hepar, karbonil pada protein otot tak larut, dan peningkatan
oksidasi lemak pada perlakuan pemanasan pada hepar dibandingkan dengan ayam
yang diberi pakan konvensional. Pada percobaan ini, ayam model menjadi lebih
peka terhadap perubahan oksidatif daripada ayam yang diberi pakan konvensional,
yang ditunjukkan oleh rendahnya pertahanan antioksidan (Young et al. 2002).

Aktivitas antioksidan dapat diukur dengan metode tiosianat dengan cara
melihat jumlah peroksida yang terbentuk pada emulsi selama inkubasi sampel yang
diukur secara spektrofotometri, yaitu mengukur absorbansi pada panjang gelombang
500 nm. Tingginya nilai absorbansi mengindikasikan tingginya konsentrasi peroksida
(Yildirim et al. 2001). Pengukuran aktivitas antioksidan dilakukan dengan
menggunakan metode tiosianat berdasarkan kemampuan terbentuknya senyawasenyawa
radikal yang bersifat reaktif. Proses terjadinya senyawa radikal bebas ini
disebabkan oleh oksidasi senyawa asam linoleat dalam buffer yang diinkubasi pada
suhu 40oC selama beberapa jam. Asam linoleat pada uji ini berperan sebagi substrat
yang dioksidasi. Setiap periode tertentu aborbans hasil oksidasi diukur dengan
menggunakan FeCl2 dan amonium thiosinat (NH4CN). Besi (Fe2+) berperan sebagai
mediator mengkatalisisi peroksidasi lipida telah banyak diketahui, juga berperan
meningkatkan absorbsi dan transport lipida intraseluler (Osborn dan Casimir 2003).

Degradasi isoflavon dan flavonoid dalam saluran pencernaan menjadi
senyawa monofenolat memiliki daya tarik karena beberapa monofenolat memiliki
sifat berefek sebagai antiproliferatif, misalnya senyawa metil p-hidroksifenolat dapat menghambat sel MCF-7 secara in-vitro (Hendrich et al. 1999). Setelah diabsorbsi
pada saluran pencernaan, antioksidan masuk ke dalam peredaran darah. Ikatan
dengan protein menghasilkan pelapisan substansi yang merupakan kapasitas
antioksidan flavonoid. Laporan terakhir menunjukkan kapasitas antioksidan
berkorelasi positif dengan proses fisiologis, misalnya kemampuan melawan
peroksidasi lemak. Ikatannya juga menurun dengan tidak adanya antioksidan. Pada
kejadian ini penambahan aktivitas intrinsik dari senyawa, metabolisme, ikatan
terhadap protein juga menentukan untuk mempengaruhi efek pemberian flavonoid
secara invivo (Arts et al. 2002).

Aktivitas antioksidan ekstrak Pomegranate (Punica granatum) memproteksi
hati terhadap efek tosik CCl4 secara histologi menjadi normal dan mampu
memperbaiki fungsi enzimatik akibat serangan ROS (Murthy et al. 2002). Ekspresi
berlebihan antioksidan tidak selalu menghasilkan pertahanan antioksidan dan bila
ditingkatkan kapasitas antioksidan tidak selalu berkorelasi positif dengan tingkat
ketahanan. Dalam hal ini perlu diperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
kemanjuran dan proteksi antioksidan terhadap penghapusan oksigen dan juga
tekanan lingkungan (Blokhina et al 2003). Tampaknya sangat beralasan untuk
mempertimbangkan antara potensi, risiko, dan manfaat antioksidan dosis tinggi
secara kasus per kasus dan konsumsi antioksidan supleman tunggal dosis tinggi
harus dihindari (Silalahi 2006).

Aktivitas benalu teh sebagai antioksidan yang terkandung dalam ekstrak
ditandai dengan daya mereduksi kaliumferisianida [K3Fe (CN)6], menghambat
oksidasi asam linoleat, kemampuan eliminasi terhadap H2O2 (Leswara dan Kartin
1998, Santoso 2001, Susmandari 2002). Seduhan daun S. artopurpurea
mengandung antioksidan yang tinggi dan ternyata mampu menurunkan konsentrasi
H2O2. Seduhan tersebut mengandung senyawa penurun risiko kanker, karena
radikal bebas dalam tubuh dapat menimbulkan reaksi berantai yang menyebabkan
kerusakan membran sel, asam nukleat, protein, dan lipid (Sudihartini 2003). Uji
antioksidan benalu teh (Scurrula oortiana) dengan oksidator 1,1-diphenyl 2-
pyrohidrxyl (DPPH), menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan tertinggi ditunjukkan
oleh ekstrak metanol dengan daya hambat sebesar 93.59 ppm (Simanjuntak et al.
2004).

Benalu Teh sebagai Penurun Risiko Kanker
Kanker merupakan hasil proses jangka panjang yang mengakibatkan efek penyimpangan genetik dan perubahan molekuler yang proses perubahannya berjalan secara berangsur-angsur. Biasanya diperlukan waktu lama untuk perubahan dari normal ke peningkatan level puncaknya, displasia, yaitu invasi dan metastasis secara fenotip. Akumulasi perubahan secara genetik dan molekuler dalam waktu yang lama memberikan kesempatan untuk intervensi bidang klinik untuk pencegahan inisiasi kanker dan tindakan sebelum lesi premalignan (Crowel 2005).

Tumorogenesis atau karsinogenesis adalah proses yang berkepanjangan
yang awalnya diinduksi oleh karsinogen untuk menumbuhkan kanker. Penelitian
secara ekstensif selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa individu yang
mengkonsumsi secara teratur sejumlah buah-buahan dan sayuran dapat
menurunkan risiko kejadian kanker. Fitokimia yang berasal dari kelompok buahbuahan
dan sayuran mengandung agen kemopreventif termasuk genistin, alisin,
likopen, curcumin, katekhin, dan eugenol. Karena agen tersebut telah menunjukkan
kemampuannya dalam menekan proliferasi sel kanker, menghambat faktor
pertumbuhan, menginduksi apoptosis, menghambat angiogenesis, dan menekan
ekspresi protein antiapopotosis. Agen kemopreventif berpotensi digunakan sebagai
terapi kanker di masa datang (Dorai dan Aggarwal 2004).

Data epidemiologi memberikan nilai tambah yang didapat pada pencegahan
kanker dan penyakit kronis lainnya, yaitu data pada mekanisme kejadian penyakit
seperti kerusakan DNA, tekanan oksidatif, dan peradangan kronis. Pendekatan ini
merupakan jalan untuk mengenal risiko penyakit. Sebagai strategi komplementer
memungkinkan individu menjadi resisten terhadap mutagen dan atau menghambat
kejadian kanker dengan cara memberikan agen kemopreventif (Flora dan Fergusson 2005).

Kemopreventif adalah area inovatif pada penelitian kanker yang bertujuan
pada pengembangan farmakologi, biologi, dan interferensi nutrisi untuk mencegah,
memperbaiki, dan memperlambat karsigonesis. Tindakan ini sekarang mencakup
agen preklinik dan identifikasi molekuler, skrining in vitro dan in vivo, dampak
farmakologi, dan sintesis kimia (Crowel 2005). Identifikasi dan penggunaaan agen
kemopreventif yang efektif pada kanker menjadi isu penting pada penelitian
kesehatan masyarakat. Untuk mengidentifikasi potensi kemoprevensi pada kanker
dilakukan uji in vitro yang relevan untuk pencegahan secara in vivo (Gerhäuser
2002). Kemoprevensi pada kanker termasuk pada beberapa konsep tentang
imhibisi, perbalikan, restriksi, dan perlambatan proses kanker. Proses
karsinogenesis membutuhkan waktu 20 sampai 40 tahun untuk mencapai invasi
kanker. Hal ini penting untuk mengidentifikasi jalannya evolusi pada sel kanker
sehingga dapat menahan proses karsinogenesis. Dasar pengujian pada lesi genetik
dan proses epigenetik bersamaan dengan gerak maju dari prekanker menjadi
penyakit yang bersifat invasif. Kombinasi terapi dan pencegahan yang strategis
sangat penting untuk menurunkan morbiditas kanker. Pada setiap bentuk kanker,
lokasi organ atau latar belakang genetik secara individual adalah diperlukan untuk
strategi pencegahan secara kombinasi agar berhasil (Tarapdhar et al. 2001, Steel
dan Kellof 2005).

Peluang adanya agen antitumor yang berasal dari bahan alam, sejumlah
substansi alam dikenal memiliki kemampuan menginduksi apoptosis pada sejumlah
sel tumor, yaitu senyawa kimia yang terdapat pada tanaman buah-buahan dan
sayuran. Konsumen dan pasien kanker menggunakan sejumlah produk alternatif
untuk mempertahankan dirinya dari serangan kanker. Tanaman dan produk natural
digunakan untuk mencegah pertumbuhan kanker. Masyarakat Indonesia dengan
latar belakang budaya dan etniknya, lazim menggunakan obat tradisional (OT) atau
disebut jamu, dengan memanfaatkan alam Indonesia (Supandiman at al. 2000,
Tarapdhar et al. 2001, Ito 2002, Montbriand 2004).

Benalu teh S. artopurpurea adalah tumbuhan liar yang hidup sebagai parasit
menumpang pada tumbuhan teh dan menghisap makanan dari tumbuhan inang
untuk kelangsungan hidupnya. Tanaman ini digunakan oleh sebagian masyarakat
yang tinggal di daerah-daerah di Indonesia sebagai obat alternatif antitumor atau
antikanker. Daun dan batang tanaman ini mengandung alkaloid, flavonoid, glikosida,
triterpen, saponin, dan tanin yang berperan sebagai antioksidan. Di Eropa dan
Amerika ada jenis benalu yang digunakan untuk mengobati tumor atau kanker, yaitu
ada beberapa tanaman misalnya benalu teh (Viscum album L) yang dalam
percobaan bersifat imunomodulator melalui pengaktivan sel granulosit dan makrofag
yang memberi sifat antitumor (Windardi dan Rahajoe 1998, Achi 2005).

Infus benalu teh ternyata mampu menghambat proliferasi sel tumor kelenjar
susu (Mus musculus L) galur C3H. Daya hambat infus benalu teh tersebut
kemungkinan diberikan oleh steroida, glikosida, triterpenoid, dan saponin yang
terdapat dalam ekstrak tersebut (Nugroho et al. 2000). Hasil penapisan fisiokimiawi
terhadap simplisia menunjukkan bahwa benalu teh mengandung kelompok senyawa
alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan terpenoid (Tambunan et al. 2003).
Jenis benalu dan inang yang berbeda memberikan pola spektrum yang sama,
walaupun nilai serapannya berbeda (Leswara dan Kartin 1988).

Tanaman benalu teh S. artopurpurea secara empirik digunakan untuk
mengobati penyakit tumor atau kanker. Aktivitasnya sebagai antitumor atau
antikanker adalah secara tidak langsung, yaitu melalui sistem kekebalan dengan
cara meningkatkan konsentrasi imunoglobulin G (IgG). Pemakaiannya sebagai obat
antitumor atau antikanker menimbulkan dugaan bahwa bahan tersebut bersifat
imunostimulator, yaitu meningkatkan konsentrasi IgG (Winarno et al. 2000).
Daun dan batang benalu teh mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, terpenoid, glikosida, triterpen, saponin, dan tanin (Nugroho et al. 2000, Santoso
2001, Tambunan et al. 2003). Flavonoid telah menunjukkan perannya sebagai
antioksidan, antimutagenik, antineoplastik, dan aktivitas vasodilatator. Potensi
antioksidan flavonoid untuk mencegah kerusakan oksidatif yang ditunjukan oleh
semua proses penyakit membuatnya layak digunakan pada pengendalian sejumlah
penyakit (Miller1996).

Tiga senyawa flavonoid alam telah diisolasi menggunakan etil asetat, yang
berasal dari fraksinasi S. feruginosa, yaitu kuersetin, kuersetrin, dan flavonol
glikosida 4-O-asetl kuersetrin. Evaluasi daya sitotoksik pada kultur jaringan kanker
glioblastoma manusia menunjukkan bahwa kuersetin memiliki aktivitas tertinggi (Le
Dévéhat et al. 2002). Senyawa polifenolat alam, termasuk flavonoid yang disintesis
oleh tanaman, mampu memperbaiki kesehatan. Kuersetin dan kuersetin glikosida
yang tersebar pada flavonoid yang dikonsumsi terdapat pada buah dan sayur.
Senyawa ini secara luas berperan pada perbaikan kesehatan sehingga menjadi
penting dan menarik (Boyer et al. 2005, Lila et al. 2005).

Ekstraksi 500 mg daun benalu teh S. oortiana yang dilakukan secara bertingkat memperoleh ekstrak n-heksan 8.47 g (1.69%), etil asetat 18.71 g (3.74%),
Metanol 7.38 g (1.48%), dan ekstrak air 32.86 g (6.57%) (Simanjuntak et al. 2004).
Berdasarkan kelarutan bahan kandungan benalu teh dalam air panas yang
digunakan secara tradisional, kemudian air rebusannya diminum,. dilakukan isolasi
dan identifikasi S. junghuni yang diekstraksi dengan pelarut air (Tambunan et al.
2003).

1 komentar:

Anonim mengatakan...

salam,
mohon pandangan singkatnya atas hasil penelitian ini:
http://www.lemlit.undip.ac.id/abstrak/content/view/115/324/

pada daging asap terdapat peningkatan besar senyawa2 fenol.
apakah akibatnya jika dikonsumsi secara reguler?

Thx Before, mohon cc ke email saya.
jartjay@yahoo.com

Poskan Komentar

Komentar Anda :

NASA Image of the Day

PROFIL PENGHUNI

Foto saya

elfahrybimantara*  Aktifitas mengajar disiplin bidang kelautan dan perikanan. Konsern dengan dunia kelautan dan perikanan. Senang dengan wisata bahari. Mengabdi di Pemkab Bima NTB. Pendidikan Magister Perikanan di Universitas Brawijaya Malang (strata 2) pada bidang bioteknology perikanan. Mari bertukar informasi. Salam Sahabat Blogger.
Ada kesalahan di dalam gadget ini

SAHABAT MAYA :

SEARCH LINK :

Memuat...

Label List

VISIT TOROWAMBA BEAUTY BEACH

VISIT TOROWAMBA BEAUTY BEACH
torowamba as one of tourism asset in sape bima

NEW MOTIVATION :

SUNGGUH SANGAT MEMALUKAN JIKA KAPAL BESAR KITA BERBALIK HALUAN KEBELAKANG HANYA UNTUK MENGURUS SAMPAN KECIL MASALAH. AYO !!! MAJU TERUS BRO !
Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates