WELCOME TO MY BLOG ::

Selamat Datang Sahabat. Semoga kita menjadi saudara sejati, ketika KLIK anda mengantar masuk space ini semoga bukan ruang hampa yang menjenuhkan. Sangat tersanjung anda berkenaan membaca sejenak apapun yang tersaji disini. Sejurus lalu, meninggalkan komentar, kritik atau pesan bijak buat penghuni blog. Ekspresi anda dalam bentuk tulisan adalah ungkapan abstrak banyak keinginan yang ingin kita gapai. So, berekspresilah dengan tulus dan semangat. Mari kita pupuk semangat dan cita-cita tinggi.
OK

Selasa, 11 Juni 2013

Memahami Dunia Sebagai Suaka

 

 Oleh : BRIGITTA ISWORO LAKSMI. (Sumber : kompas.com)

 Observasi kecil. Kita berjalan mengamati sepanjang lantai di dinding pinggir sebuah pesta perkawinan sesaat setelah acara makan prasmanan berlangsung. Tak pelak, kita akan menemukan bergunung-gunung nasi dengan beragam lauk-pauk teronggok di piring-piring yang (juga) teronggok di lantai. Miris.

Mengonsumsi makanan secara bebas telah menjadi upacara pemenuhan nafsu mengonsumsi yang dipicu dari indra penglihatan dan penciuman. Tamu berdesakan, berlomba mengambil makanan. Sebanyak-banyaknya. Jika makanan yang diambil dimakan habis, mungkin petani dan tukang masak akan tersenyum puas. Lain cerita jika makanan itu dibuang dan bakal menjadi sampah.

Kebanyakan dari kita tidak mampu melihat keterkaitan antara sumber daya alam dan berbagai benda yang kita konsumsi, termasuk makanan. Keterpecahan dalam melihat realitas lingkungan dan ekosistem di balik barang konsumsi tidak berdiri sendiri.

Fritjof Capra dalam The Turning Point secara gamblang menguraikan bagaimana pemikiran Cartesian (Descartes) telah mendorong cara pandang yang mekanistik, yang mengotak-kotakkan realitas dalam kehidupan kita. Integritas dan keseimbangan antara organisme dan lingkungan pun menghilang.

Bersamaan dengan berakhirnya Perang Dunia II yang memiskinkan negara-negara kuat dunia, paradigma pertumbuhan ekonomi dipandang tepat sebagai jalan keluar. Teknologi menjadi sarana meningkatkan produktivitas. Sumber daya alam dibongkar, berbagai benda konsumsi diciptakan menggunakan teknologi. Sementara proses ekologis dan keberlanjutan lingkungan pun hancur.

Keterkaitan 

Ketika ide Cartesian mengotak-kotakkan berbagai hal, sebenarnya semua sistem justru dalam keterkaitan satu dengan yang lain. Thomas M Kostigen (You Are Here, 2008) menuturkan hal itu setelah berjalan memutari bola dunia untuk mengalami fakta keterkaitan antarsistem dan antarmakhluk.

Dia melacak jejak kerusakan akibat praktik pembangunan yang menekankan pertumbuhan ekonomi dengan indikator produk domestik bruto. Saat kerusakan berlangsung masif, respons terhadap kerusakan demikian tidak memadai. Perusakan jauh lebih cepat dibandingkan dengan pemulihan. Penggundulan hutan menggunakan mesin berat berhektar-hektar sehari. Upaya memulihkan hutan membutuhkan puluhan tahun. Ekosistem dan keanekaragaman hayati tidak mungkin dikembalikan pada kondisi awalnya. 

Kostigen berjalan dari Jerusalem (Israel), menjelajah ke Mumbai (India), Borneo (Kalimantan, Asia Tenggara), Kota Linfen (China), Shishmaref Village (Alaska), rimba Amazon (Amerika Latin), tempat pembuangan sampah Fresh Kills Landfill (New York, AS), Samudra Pasifik, Great Lakes, Duluth (Minnesota, AS), dan pulang ke kotanya Santa Monica (California, AS). Dia berpikir. 

Menjalani keseharian, Kostigen menunjukkan, penghematan energi listrik dapat dilakukan dengan mengubah jam. Dengan memundurkan waktu satu jam, orang akan berada di luar rumah satu jam lebih lama. Dia tidak menyalakan lampu rumah sehingga konsumsi energi—yang sebagian besar masih digerakkan batubara—berkurang. 

Saat menyaksikan penggundulan rimba Amazon, Kostigen tersadar akan cara-cara manusia mengonsumsi kertas. Mungkin hanya dalam hitungan menit, kertas kita remas dan kita buang. Sebagai catatan, penggunaan kertas per kapita di AS mencapai 1.400 lembar per minggu. Hal itu berarti sekitar 73.000 lembar setahun, ekuivalen hampir sembilan batang pohon per orang (!). Bisa kita hitung, cara kita mengonsumsi kertas. 

" Inter-being " 

Barang konsumsi, termasuk makanan, tersedia setelah melalui rantai proses produksi yang panjang dan kompleks. Menurut Sudrijanta SJ, setiap benda adalah inter-being. Setiap benda merepresentasikan keberadaan (benda) lainnya. 

Saat kita menyia-nyiakan makanan, itu sama artinya dengan menyia-nyiakan segala sumber daya alam yang turut andil dalam proses produksi makanan itu. Juga sama artinya dengan menyia-nyiakan kerja manusia yang ambil bagian dalam rantai produksi, serta memuat ketidakadilan terhadap makhluk lain yang tidak berkesempatan mendapat makanan. 

Menurut catatan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), untuk memproduksi 1 liter susu dibutuhkan 1.000 liter air, dan sekitar 16.000 liter air (sekitar 100 tong minyak tanah) untuk membesarkan sapi sebelum dagingnya tersaji dalam satu buah hamburger. Selain itu, transportasi dalam proses produksi sapi, daging, dan roti mengemisikan gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global yang mengakibatkan anomali cuaca dan perubahan iklim. 

Fakta lain, produksi makanan secara global menguasai 25 persen lahan yang bisa didiami manusia, membutuhkan 70 persen air bersih, 80 persen deforestasi, dan 30 persen emisi GRK. Proses produksi makanan global menjadi pendorong utama perubahan fungsi lahan dan hilangnya keanekaragaman hayati. 

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), setiap tahun 1,3 miliar ton makanan terbuang sia-sia. Di sisi lain, setiap hari satu dari tujuh orang di dunia tidur dengan perut lapar, dan lebih dari 20.000 anak-anak balita meninggal akibat kelaparan. 

Tahun ini, UNEP menetapkan tema ”Think.Eat.Save World Environment” sebagai peringatan Hari Lingkungan Sedunia pada hari ini. Pertanyaannya, masihkah kita bertahan dengan gaya hidup tak seimbang dan tak adil itu, yang menghancurkan lingkungan hidup? Kita ditantang mengubah gaya kita mengonsumsi makanan. Kita digugah untuk membuat keputusan tepat guna mengurangi jejak karbon. Dunia, lebih dari sekadar korban eksploitasi, adalah suaka kemanusiaan dan kehidupan seperti diungkapkan filosof lingkungan, Henryk Skolimowski.

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda :

SAHABAT MAYA :

SEARCH LINK :

Label List

VISIT TOROWAMBA BEAUTY BEACH

VISIT TOROWAMBA BEAUTY BEACH
torowamba as one of tourism asset in sape bima

NEW MOTIVATION :

SUNGGUH SANGAT MEMALUKAN JIKA KAPAL BESAR KITA BERBALIK HALUAN KEBELAKANG HANYA UNTUK MENGURUS SAMPAN KECIL MASALAH. AYO !!! MAJU TERUS BRO !
Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates